Harga minyak dunia kembali mencatatkan tren kenaikan signifikan hingga menembus level psikologis US$100 per barel. Lonjakan harga ini dipicu oleh eskalasi konflik yang tengah memanas di wilayah Timur Tengah.
Ketegangan yang terjadi di kawasan Selat Hormuz menjadi faktor utama yang mengguncang pasar energi global. Jalur perairan ini merupakan titik krusial bagi distribusi minyak mentah dunia, sehingga setiap gangguan keamanan di sana berdampak langsung pada pasokan global.
Para analis pasar memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak ini berpotensi memberikan tekanan baru bagi ekonomi global. Gangguan pada rantai pasok energi dikhawatirkan dapat memicu kembali inflasi di berbagai negara, termasuk Indonesia, jika kondisi geopolitik tidak segera mereda.