Persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China kini memasuki babak baru yang lebih krusial. Kedua negara adidaya tersebut dilaporkan tengah terlibat dalam perlombaan sengit untuk mengembangkan kecerdasan buatan (AI) yang dirancang khusus untuk mendukung rencana serangan udara secara masif.
Pengembangan AI ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi dalam skenario tempur udara berskala besar. Dengan memanfaatkan kecerdasan buatan, kedua negara berupaya mempercepat proses pengambilan keputusan taktis di medan perang yang kompleks.
Langkah ini menandai pergeseran signifikan dalam doktrin pertahanan global, di mana penguasaan algoritma AI kini dipandang sama pentingnya dengan kekuatan alutsista fisik. Baik Washington maupun Beijing terus memacu inovasi teknologi mereka guna memastikan keunggulan strategis dalam proyeksi kekuatan udara masa depan.